Era Digital Recording Musik Indonesia

Dulu, artis/band yang sudah rekaman dan mempunyai banyak lagu adalah artis/band yang punya kualitas, dan merupakan kebanggan tersendiri. tak salah juga, karena dulu sekitar dekade 60-an sampai 90-an sangat susah bagi artis/band baru untuk bisa mempunyai album rekaman sendiri. karena hanya sedikit dari mereka yang punya kualitas saja yang bisa di beri kesempatan rekaman secara profesional oleh produser musik atau major label.

Berbeda dengan dekade 2000-an hingga saat ini. dengan kemajuan teknologi (khususnya elktronik) yang sangat pesat, istilah rekaman bukan lagi sebuah prestise. bagaimana tidak, karena dengan teknologi saat ini, rekaman bahkan bisa dilakukan sendiri di rumah. maka tak heran begitu banyak artis/band baru muncul dalam peta persaingan industri musik.

Mereka sebgai pendatang baru tidak lagi muncul sebagai artis/band yang berada dibawah bendera major label besar yang selama ini terkenal sebagai perusahaan rekaman penghasil artis/band berkualitas seperti Musica Studio’s, Aquarius Musikindo, SonyBMG, dll, tetapi sekarang banyak artis/band yang mempunyai label sendiri, atau perusahaan rekaman skala kecil.

Namun terlepas dari semua itu, kualitas musik yang dihasilkan tak jauh berbeda dengan artis/band major label. hal ini yang melahirkan band/artis independent (Indie). Inilah masa yang disebut “Era Digital Recording”. merekam lagu sendiri dirumah hanya dengan sebuah peralatan sederhana seperti komputer dan software musik, dan alat-alat musik seperti gitar, bass, drum, keyboard, dll, sudah bisa menghasilkan kualitas musik yang bagus. tergantung dari tehnik pengaturan sound dan aransemen masing-masing.

Tetapi banyak kalangan yang menilai bahwa artis/band saat ini hanya bagus karena dukungan teknologi. tapi secara kualitas musik/skill jauh dari band/artis jaman dulu. Namun sebenarnya tidak demikian. karena artis/band tidak bisa di bedakan secara kualitas. tapi dari sisi lain seperti kesuksesan dan kepopuleran yang merupakan tujuan utama dari band/artis komersil. dari setiap generasi akan selalu muncul artis/band yang akan menjadi legenda dan fenomena dalam sejarah musik.

Advertisements

Cara Merekam Gitar ke PC/Notebook

Ada beberapa cara untuk merekam gitar ke komputer. Ini bervariasi dari mulai dengan kabel gitar ke komputer yang sederhana sampai dengan yang menggunakan kabel USB. Semua cara ini sangat mudah melakukannya.

Langkah 1:

Hubungkan headphone/line out dari ampli gitar ke line in soundcard komputer. Yang diperlukan untuk ini adalah sebuah Kabel Audio dari Gitar ke Komputer yang mempunyai jack standard pada ujungnya, dan sebuah mini-jack pada ujung satunya lagi.

Langkah 2 :

Hubungkan gitar elektrik secara langsung ke soket mic-in pada sound card. Cara ini tidak menghasilkan rekaman kualitas tinggi untuk seorang profesional tapi bisa cocok untuk amatiran.

Langkah 3 :

Menggunakan sebuah perlengkapan USB yang bisa menyederhanakan proses rekaman. JamLab adalah salah satu peralatan berdasrkan USB yang cukup populer, didisain secara khusus untuk gitaris. JamLab mengubah komputer PC atau Mac menjadi sebuah sistim gitar tanpa memerlukan tambahan peralatan lain kecuali guitar. JamLab menghubungkan secara langsung ke komputer via sebuah koneksi USB yang sederhana, dan memanfaatkan sebuah input ¼ inch untuk gitar.

Langkah 4 :

Menggunakan M-Audio Fast-Track USB adalah cara lain yang sederhana untuk melakukan rekaman dengan mudah ke notebook/laptop. Hubungkan M-Audio Fast Track USB ke port USB dari komputer dan kita siap untuk merekam. Fast Track USB mempunyai sebuah input untuk instrument musik seperti gitar, bas dan keyboard, plus sebuah input microphone untuk merekam vocal atau suara instrument akustik lainnya.

Langkah 5 :

Banyak musisi profesional akan menggunakan peralatan USB yang mengkombinasikan input Audio dan output MIDI. Cara ini cocok untuk seorang gitaris yang menginginkan sebuah solusi home studio lengkap pada komputer PC atau Mac. Tascam memiliki dua unit, (US-122L dan US-144) yang sangat populer karena kemudahan dalam penggunaannya.

Langkah 6 :

Metode merekam gitar yang profesional adalah menggunakan sebuah microphone untuk merekam output dari ampli (untuk para gitaris elektrik), atau gitar akustik. Cara ini akan menghasilkan sebuah suara yang kurang “bersih”, tapi beberapa gitaris (yang ingin menghasilkan suara seperti White Stripes) akan lebih suka suara “retro” ini.

Sumber: http://pelopor.wordpress.com/

Home Recording

Dengan semakin canggih komputer dan perangkat konverter audio di masa kini, maka tidak heran jika banyak musisi yang menggunakan perangkat digital seperti ADAT dan lain-lain untuk memproses musik hasil karya mereka. Bertaburan software yang membawa keunggulan masing-masing. Seperti CAKEWALK yang sangat populer dengan piranti MIDI (Music Instrument Digital Interface), CUBASE SX dengan piranti recordingnya, NUENDO, serta beberapa software virtual yang sangat banyak jumlahnya. Dapat saya pastikan jika Anda mengunjungi tempat penjualan software komputer, anda akan dibuat bingung oleh begitu banyaknya software-software tersebut. Jika anda ingin mencoba semuanya… ya silahkan saja!! Baiklah… sebenarnya apa sich yang harus dimulai ketika Anda punya keinginan untuk merekam karya-karya Anda. Mungkin dengan menyimak sedikit artikel dari saya ini dapat memberikan pengetahuan untuk anda tentang apa dan bagaimana proses recording itu dan apakah memang dapat merekam karya-karya kita juga dapat dilakukan dirumah/studio sendiri seperti yang sering kita dengar dengan istilah Home Recording. Silahkan simak artikel saya ini….

Prinsip Recording
Pertama kalinya recording ditemukan satu abad yang lampau. Tepatnya pada tahun 1887, ketika Thomas Alfa Edison menemukan alat perekam, yaitu cylinder phonograph. Dan sejak itu pula bermunculanlah kemajuan yang dicapai hingga kini.
Tujuan utama recording adalah merekam seluruh karya kita berikut arransemennya. Dan hasilnya dapat kita dengar ulang. Tentunya diharapkan kualitas musik tetap terjaga, tidak merusak telinga yang mendengarkannya. Sebagai catatan kemampuan telinga kita sanggup menerima intensitas bunyi di kisaran 10 dB – 120 dB. Itupun kalau suara yang dihasilkan tidak rebek dan pecah.. Kualitas record yang rusak juga dapat menghancurkan perangkat audio system di rumah.

Prosedur Teknis Recording
Penulis mencoba merangkum beberapa standar yang dilakukan dalam recording profesional.

1.Merekam suara yang disebut Tracking atau ‘Take’.

Dari sebuah arransemen musik, tentunya ada sekian banyak instrumen yang akan mengiringi sebuah lagu. Satu per satu setiap instrumen direkam dalam track record. Secara teknis adalah dari sumber suara akustik yang diubah menjadi gelombang electric. Sinyalnya diterima oleh recorder. Idealnya sumber suara (source) yang terekam semirip mungkin dengan aslinya. Jika menggunakan komputer, jadilah sinyal tersebut sebagai digital. Tetapi oleh recorder Analog (seperti DAT, realtape) sinyalnya tetap menjadi analog.

2.Hasil tracking yang telah terekam, dilakukan proses Mixing yang meliputi pengaturan volume, gain, balancing.

Dalam teknologi rekaman digital, Anda akan sangat terbantu untuk melakukan editing karena fasilitas dari software audio editing. Pada bagian-bagian tertentu dapat kita copy, delete, mixed, dll layaknya seperti kita menggunakan aplikasi pengolah kata seperti MsWord dan kawan-kawanya.

3.Selanjutnya adalah proses Equalisasi, yakni proses menciptakan karakter sound dengan penguatan ataupun pengurangan frekuensi suara seperti pada Low,Low-Mid,High-Mid-dan High frekuensi.

Proses ini menuntut ketajaman telinga Anda hingga antar frekuensi tidak saling bertabrakan. Seberapa besarkah kemampuan Anda dalam membedakan frekuensi. Sound terekam harus memiliki kejernihan, terang, berkarakter dan tidak pecah. Pastikan bahwa input dari suara yang terekam memiliki ketebalan ( pada step 1 ), sehingga memudahkan kita untuk melakukan equalisi. Contohnya sound cymbals adalah tipis, tetapi terang dan bening. Inilah seorang sound engineer diuji kemampuannya.
Teknik berikutnya adalah pemberian Sound Effect, seperti reverb (efek ruang), delay, Chorus, Compresi, Noise Gate, Limiter, dll. Effect memberikan karakter yang lebih kuat. Sentuhan terakhir ini akan menjadikan music Anda siap untuk didengarkan, seperti layaknya kita mendengar Compact Disc, Cassette, dll, atau bahkan lebih dramatis.

4.Mastering adalah proses terakhir.

Di studio mastering profesional hasil rekaman kita tadi ditangani si ‘dokter audio’. Tugasnya menghilangkan hiss dan hum, menurunkan simbilance (ess) yang berlebihan, mengkompres frekuensi-frekuensi yang kasar, memoles dan meratakan, menetapkan standar volume. Barulah musik karya kita direkam ke dalam pita cassete atau CD melalui CD Burning.

Equipment Recording
Jika disusun daftar, begitu banyak kiranya perangkat untuk menciptakan musik Anda di rumah. Berikut ini adalah daftar minimal equipment yang kita butuhkan jika kita akan merekam secara digital.

1. Personal Computer, dengan spesifikasi minimal : Pentium II , RAM 128 MB, CD Burning (tidak harus) dan Harddisk yang cukup besar, min 10 GB. Tapi untuk software produk terkini, ada spesifikasi yang meminta RA cukup besar.
2. Sound Card (internal komputer) atau Conventer (external) untuk kelas profesional. Kualitas Sound Card diukur dalam istilah Sample Rate. Soundcard PC standar umumnya samplerate : 44.100 KHz-16 bit. Sebagai perbandingan profesional samplerate-nya 96.000 KHz-32 bit (kualitas sound DVD), dan bahkan ada yang lebih dari itu.
3. Microphone , dengan jenis dynamics, kondensor atau Cardiod. Untuk dua jenis terakhir diperlukan piranti tambahan, yaitu mic preamp yang memiliki fasilitas Phantom Power (+48 dB) yang biasanya terdapat dalam piranti tambahan yang disebut Mic Preamp.
4. Stereo Speakers Control. Usahakan jenis speaker memiliki kemampuan untuk memproduk Low/High frekuensi. Untuk profesional, biasanya menggunakan jenis real speakers monitor.
5. Headphone.
6. Kabel-kabel penghubung yang jumlahnya tidak sedikit. Kualitas kabel disarankan yang memiliki kualitas terbaik, tidak mudak putus/patah, anti noise, lentur serta pemilihan jack yang baik. Jenis jack audio yang umum digunakan diantaranya Canon, RCA, XLR.

Dengan daftar di atas Anda sudah dapat melakukan perekaman minimal 2 track. Tetapi jika ingin dikembangkan lebih jauh, berikut ini daftar kelas profesional.
7. Mixer atau Console / piranti pencampur suara sekaligus mengatur gain/volume input.
8. Compresor / penahan sinyal berlebih.
9. NoiseGate Prosesor / membuang suara tak perlu (noise)
10. Equalizer/ pembentuk timbre suara.
11. Analog/Digital Efek Prosesor/ pemberian efek ruang, dynamics, ketajaman, ambience, dll.

Seiring dengan kemajuan teknologi audio, sejumlah pabrikan menawarkan berbagai piranti yang semakin canggih.Pertanyaannya….. berapa budget untuk menyiapkan semuanya. Silakan jalan-jalan ke toko music profesional dan berhitung. Setidaknya untuk mengawali kita bisa mulai dengan daftar perangkat pertama (1 – 6).

Persiapan Piranti Recording
Lebih singkat, dalam tulisan ini kita bicarakan teknik Digital. Menggunakan teknik ini, pasti berhubungan dengan komputer. Baiklah akan kita bahas satu persatu hardware yang akan gunakan.

RUANG RECORDING
Untuk kelas rumahan / Home Recording tidak perlu di set secara khusus. Pastikan saja ruang Anda nyaman untuk bekerja dan tidak bising dengan gangguan suara disekitar ruang rekaman. Tapi dalam perekaman profesional dibutuhkan ruang khusus dan memiliki akustik ruang serta kedap suara yang sangat baik.

PERSONAL COMPUTER
Dengan pesatnya kemajuan komuter dan software, dapat menciptakan studio recording baik untuk taraf rumahan maupun yang profesional. Silahkan periksa spesifikasi komputer Anda, mulai dari prosesor, RAM, Soundcard (spesifikasi standar telah dibahas di atas).
Kualitas Record berarti berhubungan dengan kualitas Sound Card yang Anda miliki. Untuk kualitas tergolong cukup bisa diandalkan seperti Sound Blaster Live 5.1 Platinum, Audigy, Vibra 128. Soundcard juga memiliki fasilitas “What you Hear” yang mana akan mempermudah perekaman MIDI File ke Wave File. Tapi tak apalah jika dengan merek lain. Dengan sebuah PC, kita juga dapat merekam sinyal-sinyal analog kedalam bentuk wave file. Umumnya soundcard PC memiliki jalur input 1 (mono) mic, 1 (stereo) line In, jalur output 1 (stereo) line out, 1 (stereo) speaker. Sebagai catatan bahwa jalur stereo sebenarnya memiliki 2, yaitu L dan R. Keduanya bisa dipecah dengan membuat jalur baru. Jika dirasa 2 input belum cukup, Anda juga dapat menggunakan tambahan soundcard tetapi dengan tipe atau merek yang lain. Jika 1 merek / tipe yang sama maka terjadilah crash dan tidak bisa didetek oleh system komputer.
Lain lagi jika kita rekaman pro yang sedikit rewel dalam pemilihan soundcard atau disebut konventer yang lebih banyak terpasang di luar PC. Produk yang banyak dipakai diantaranya Teratex, Pro Tools, Aardvark, E-MU, DSP 2000, dll. Umumnya mereka mempunyai lebih dari 4 input dan lebih dari 2 output. Tapi jangan tanya harganya…. selangit…
Memilih soundcard / conventer dapat dlihat dari keterangan produknya dengan acuan yang disebut Sample Rate. Sample Rate mengukur ketebalan dari hasil proses rekaman. Untuk kelas PC standar umumnya adalah 44.100 KHz-16 bit. Untuk perbandingan, converter memiliki sample rate 96 KHz-32 bit. Ini adalah standar kualitas suara yang dikeluarkan oleh DVD.

sumber ; Bengkel Musik