L.A. Lights Indiefest

L.A. Lights Indiefest adalah sebuah event kompetisi musik yang di khususkan bagi band-band indie indonesia untuk menunjukan ekspresi melalui musik yang mereka bawakan. acara yang sudah eksis sejak tahun 2006 ini telah melahirkan banyak band berkualitas. Sebuah kesempatan besar bagi band-band baru untuk bisa bergabung di sini dan menunjukan aksi musiknya. ajang L.A. Lights Indiefest juga sudah terbukti menghasilkan puluhan grL.A. Lights Indiefestup band berkualitas.

Dan lewat ajang ini mereka telah melebarkan sayap dan menjadikan lagu-lagu mereka bisa lebih didengar dan group band mereka semakin dikenal. tidak hanya tingkat regional, namun mampu menembus tingkat nasional dan Asia telah mereka buktikan. sebagai contoh band dari jebolan L.A. Lights Indiefest 2008, The Banery. dengan mengusung British Sunshine Pop mereka mendapatkan sambutan luar biasa dan saat ini mereka sedang mempersiapkan launching full album dengan 10 hitsnya di Bulan Mei 2009. Penggarapan album ini ditangani oleh myOyeah music dan artistik lagu diproduseri oleh Krisna J. Sadrach (eks- Sucker Head).

Selain itu, Cascade, sebagai Finalis LA Lights Indiefest 2007 mengikuti jejak alumni tahun sebelumnya yaitu VOX untuk tampil di Esplanade – Singapura. Finalis asal Surabaya ini sebelumnya sudah terlebih dahulu mendapat kesempatan manggung di tempat yang sama dalam sebuah acara bergengsi bertajuk ’Rock Thy Neighbours’, bulan Januari 2008 lalu. Tidak hanya puas dengan merilis lagu mereka di album kompilasi, VOX, jebolan LA Lights Indiefest 2006 ini juga berhasil merilis full album mereka lewat label indie terkemuka Indonesia, Aksara Records.

Kehadiran band indie dengan keunikan serta image yang lengkap diharapkan bisa menjadi sebuah trend baru di tengah maraknya kemunculan band-band mainstream yang saat ini mendominasi industri musik di Indonesia. LA Light Indiefest adalah tempat yang tepat untuk band indie indonesia menunjukan kualitas dan musik sesungguhnya.

Advertisements

Burgerkill

Burger Kill, adalah sebuah nama yang cukup mengerikan. Sebuah band yang namanya diambil dari selewengan sebuah nama restaurant fast food asal Amerika. mereka adalah Burger Kill, berdiri pada bulan Mei 1995, band asal Ujungberung, Bandung, tempat tumbuh dan berkembang nya komunitas Death Metal / Grindcore di daerah timur kota Bandung. band ini memainkan musik Hardcore dengan ritme cepat, keras, dan riff-riff poburgerkillwerchord yang enerjik menjadi bagian kental pada lagu-lagu Burgerkill serta dilengkapi oleh fill-in gitar yang lebih menarik.

Di kalangan komunitas indie musik, nama Burgerkill mungkin sudah tidak asing lagi. namun untuk kalangan pecinta musik secara umum, nama Burgerkill terkenal setelah mengajak Fadly (Padi) untuk menjadi Guest Vocal, dalam salah satu lagu nya yang berjudul “…” atau Tiga Titik Hitam.

BURGERKILL HARDCORE BEGUNDAL IN YOUR FACE, WHATEVER! !

Musik Indie yang Merdeka

Tanggal 17 Agustus lalu, MuDA kedatangan tamu personel band dan penyanyi indie. Mereka adalah TIKA (penyanyi solo beraliran trip hop dan jazz), Felix Dass (Ballads of the Cliché, indie pop), Arian13 (Seringai, cadas high octane rock), serta Bindra dan Inu (whisperdesire, pop alternatif).

Sesuai tema Hari Merdeka, fokus pembicaraan menyangkut profesi pelaku musik independen. Buat kalian putih abuers yang mau bikin band indie, simak tips mengelola band indie dari mereka.

“Capek sebenarnya jadi band indie,” kata Felix Dass, manajer band Ballads of the Cliché. Persoalan pertama band yang ingin eksis biasanya bagaimana segera merilis album, tanpa menunggu datangnya tren genre musik yang digeluti, atau diajak rekaman major label.

Kerja independen akhirnya menjadi pilihan pertama dan yang utama. Selain memangkas birokrasi, kerja sendiri lebih efisien. Hampir semua dikelola sendiri, dan hanya distribusi album yang diserahkan kepada pihak yang lebih profesional.

“Manajemen band kami kelola sendiri. Ada kru yang kami bentuk secara solid untuk mengelola band,” kata Arian, vokalis band Seringai.

Penyanyi solo Kartika Jahja atau TIKA mengatakan,…. Continue reading “Musik Indie yang Merdeka”

Indie Musik

indieMusik indie di Indonesia, kiprahnya belum sebanding dengan musik pop, rock maupun dangdut. Aktifitas band indie, beberapa tahun lalu masih di bawah tanah. Mereka mengekspresikan musiknya masih ditempat tertentu dan untuk kalangan sendiri. Konon, musik yang dihasilkan indie sangat personel atau gue banget!

Namun kini, musik indie sebagian telah memiliki terobosan baru,khususnya dalam konser dan peredaran albumnya. Sebagian sudah terbuka untuk umum. Ajang yang digelar telah diperhitungkan dan menjadi rebutan perusahaan (sponsor), karena komunitas dan penggemarnya makin menggurita di mana-mana. Tempat acaranya juga tidak tersebunyi seperti sebelumnya tapi kini ditempat-tempat yang umum, seperti juga konser musik pop, rock maupun dangdut. Tempat itu tidak hanya di lapangan terbuka atau gedung pertunjukan tapi kini telah merambah ke hotel berbintang. Sebagai contoh di Surabaya, hotel berbintang empat yang menjadi ajang apresiasi musik indie adalah Garden Palace Hotel (GPH). Setiap Selasa dan hampir dua tahun, hotel di pusat kota ini selalu menggelar musik indie dengan titel Club Tuesday. Awalnya acara digelar pihak hotel dan sebuah radio namun perkembangannya juga melibatkan sponsor. Kelompok yang tampil, ternyata tidak hanya dari Surabaya atau Jawa Timur umumnya tapi juga sering kedatangan grup indie dari luar kota. Ada yang dari Jogjakarta, Bandung bahkan dari Bali juga sempat hadir. Kehadiran mereka ini bukan sebagai bintang tamu atau undangan tapi keiinginan sendiri, sekaligus membentuk jaringan.

Geliat band indie sepertinya terus maju dan mengikuti jenis musik lainnya. Ajang musik indie yang tergolong besar LA Light Indiefest 2006 dan digelar di Surabaya, Jogjakarta, Jakarta dan Bandung jumlahnya pesertanya mencapai 1.450 band. Tema yang diangkat cukup menarik dan gaul, Biar Musik Lu Didenger…! Dari ribuan peserta itu diseleksi dan sepuluh band terbaik berkesempatan rekaman kompilasi. Albumnya diedarkan melalui perusahaan rekaman Fast Forward Records (FFR) dan didistribusikan ke 22 negara melalui iTunes, sejenis perangkat lunak musik yang berfungsi sebagai MP3 Player.

Festival secara besar dan ditempat yang strategis ini, tujuannya untuk mengangkat band indie dan namanya bisa terkenal, seperti band pop atau rock, kata Head of Communication Dept. Independent Network Indonesia, Rella Putra Ir, saat itu di Surabaya. Sebagai penambah wawasan band indie baru, dihadirkan juga bintang tamu, band indie Indonesia yang sudah terkenal namanya, seperti The SIGIT, Goodnight Electric dan band indie dunia Edison dari Swedia. Ada juga Ballads of The Cliche, band Tanah Air yang penggemarnya hingga manca negara. Di antaranya Malaysia, Jepang, Thailand Singapura dan lainnya. Pada Februari 2007, grup ini sempat dua kali konser di Esplanade Outdoor Theatre, Singapura. Februari 2008 ini kabarnya Fox dari Surabaya juga konser di Singapura.

Melanjutkan Indiefest, tahun berikutnya digelar festival dengan tema Urbanfest 2007. Dilaksanakan di Surabaya, Jogjakarta, Jakarta, dan Bandung pada Agustus-September. Pesertanya juga meningkat, menjadi 1.870 band yang berarti atau bisa dikatakan bahwa band indie makin menunjukkan eksistensinya. Jika dibandingkan dengan ajang musik lainnya, sepertinya misalnya A Mild Live (AML) Wanted 2007, tidak jauh berbeda. Saat itu pesertanya 2.300 band. Apalagi dibandingkan dengan ajang musik jazz yang pesertanya minim. Pada 2007, saat salah satu rumah musik mengadakan festival, pesertanya hanya 10 band.

Melihat kondisi ini, band indie sepertinya layak jual dan dilirik pasar musik Indonesia. Tinggal produser yang bisa mengolahnya dan membinanya. Apalagi sebagian band indie juga mulai terbuka pada label mayor. Terbukti, beberapa band indie masuk 12 besar AML Regional Jatim 2008 yang juga didukung dua perusahaan label mayor. Juara I dari ajang tersebut, Blast Band pernah juara III Indie Party 2006. Namun ada sebagian band indie tidak rela karyanya dibuat mayor. Pada ajang musik indie, kriteria penilaiannya untuk lolos ke babak selanjutnya adalah kualitas lagu, orisinalitas lagu, kemampuan personel band dalam bermain musik dan menyanyikan lagu secara langsung (live), gaya penampilan, dan prospek atau potensi band di masa depan.

Dari sekian banyak konser atau festival yang dilakukan, band indie di Indonesia ternyata amat beragam dan corak musiknya sangat variatif. Ini menunjukkan bahwa mereka bebas berekspresi sekaligus dampak dari globalisasi yang amat deras serta didukung teknologi canggih. Band indie, dalam bermusik, sepertinya tanpa hambatan atau tekanan. Apalagi sampai pusing memikirkan supaya kaset atau CD-nya laku di pasaran. Karena mempunyai jaringan tersendiri. Bagi mereka, sepertinya ada ungkapan bahwa musik adalah jiwa bukan untuk dijual.

Sumber; Simphonymusic.com


Digg!