Musik Indie yang Merdeka

Tanggal 17 Agustus lalu, MuDA kedatangan tamu personel band dan penyanyi indie. Mereka adalah TIKA (penyanyi solo beraliran trip hop dan jazz), Felix Dass (Ballads of the Cliché, indie pop), Arian13 (Seringai, cadas high octane rock), serta Bindra dan Inu (whisperdesire, pop alternatif).

Sesuai tema Hari Merdeka, fokus pembicaraan menyangkut profesi pelaku musik independen. Buat kalian putih abuers yang mau bikin band indie, simak tips mengelola band indie dari mereka.

“Capek sebenarnya jadi band indie,” kata Felix Dass, manajer band Ballads of the Cliché. Persoalan pertama band yang ingin eksis biasanya bagaimana segera merilis album, tanpa menunggu datangnya tren genre musik yang digeluti, atau diajak rekaman major label.

Kerja independen akhirnya menjadi pilihan pertama dan yang utama. Selain memangkas birokrasi, kerja sendiri lebih efisien. Hampir semua dikelola sendiri, dan hanya distribusi album yang diserahkan kepada pihak yang lebih profesional.

“Manajemen band kami kelola sendiri. Ada kru yang kami bentuk secara solid untuk mengelola band,” kata Arian, vokalis band Seringai.

Penyanyi solo Kartika Jahja atau TIKA mengatakan,….

bekerja pada jalur indie orang dituntut lebih kreatif, lebih terlibat, dan mau kerja keras. “Apalagi saya sendirian. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari buat album, desain grafis cover, sampai pemasaran,” ujarnya.

Bindra dari whisperdesire mengungkapkan, sebagai band baru dengan budget terbatas, konsekuensinya semua pekerjaan kreatif dilakukan sendiri. “Kami membuat album dan mengedarkan sendiri. Kalau manggung, kami bawa CD untuk diedarkan,” tuturnya.

Band-band indie bisa melahirkan album dengan budget berapa pun. Felix bercerita, “Kami pernah memproduksi album hanya dengan burning CD hingga 900-an, lumayan capek.”

Tak selaras

Salah satu ciri musik indie adalah mandiri dan independen. Awalnya, tak semua band yang baru terjun ke dunia musik paham apakah mereka mau berkarya sebagai indie atau masuk industri major label. Mereka lebih mementingkan karya musik yang sesuai dengan kualitas dan kapasitas diri.

Musik indie merupakan pilihan, bukan sekadar menjadi transit menuju major label. Musik indie lebih pada cara bekerja dan bermusik yang terasa merdeka dari tekanan industrialisasi musik populer. Harus diakui, ada komunikasi yang tak selaras antara indie dan major label sebagai representasi industri musik.

“Industri musik dan major label sampai sekarang enggak ngerti musik indie. Sekarang mereka mulai tertarik indie walaupun masih enggak ngerti juga,” ungkap Arian.

Pihak major label selalu menggunakan indikator musik yang disukai banyak orang. Mereka menghitung berapa orang yang akan membeli album itu.

Konsistensi

Satu hal yang harus ditaati pelaku band indie adalah konsistensi terhadap musik yang digeluti. Band yang menjadikan gerakan indie sebagai pilihan biasanya pantang mengubah genre, cara, dan gaya bermusik.

“Ya, memang ada teman-teman yang setelah masuk major label lalu mengubah format bermusiknya,” kata Tika.

Ia menambahkan, masuk major label bukanlah tujuan utama pekerja musik indie. “Ada yang hanya menggunakannya sekadar akses untuk memperlebar audiens.”

Arian mengatakan, sebagian band memang menjadikan indie sebagai ideologi gerakan.

Seringai, kata Arian, merupakan band yang hingga kini tetap mengusung tema cadas. Jika kemudian punya pengikut, itu bukan karena Seringai mengikuti mainstream melainkan musik merekalah yang menciptakan pengikut itu.

Kendala indie

Jika melihat sifat musik indie, kendala berkembangnya band indie sebenarnya bukan terletak pada ketidaktahuan major label terhadap musik indie.

Arian mengatakan, kendala utama adalah minimnya liputan media massa terhadap band-band indie. Selain, event organizer juga masih sedikit yang menggelar acara untuk band indie.

Felix menambahkan, kendala lain adalah tak semua jenis musik indie bisa diterima pendengar.

Namun, mereka optimistis, peluang tetap ada. Musik indie memang fenomena kaum urban.

Dikutip dari; Kompas

6 thoughts on “Musik Indie yang Merdeka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s