Indie Musik

indieMusik indie di Indonesia, kiprahnya belum sebanding dengan musik pop, rock maupun dangdut. Aktifitas band indie, beberapa tahun lalu masih di bawah tanah. Mereka mengekspresikan musiknya masih ditempat tertentu dan untuk kalangan sendiri. Konon, musik yang dihasilkan indie sangat personel atau gue banget!

Namun kini, musik indie sebagian telah memiliki terobosan baru,khususnya dalam konser dan peredaran albumnya. Sebagian sudah terbuka untuk umum. Ajang yang digelar telah diperhitungkan dan menjadi rebutan perusahaan (sponsor), karena komunitas dan penggemarnya makin menggurita di mana-mana. Tempat acaranya juga tidak tersebunyi seperti sebelumnya tapi kini ditempat-tempat yang umum, seperti juga konser musik pop, rock maupun dangdut. Tempat itu tidak hanya di lapangan terbuka atau gedung pertunjukan tapi kini telah merambah ke hotel berbintang. Sebagai contoh di Surabaya, hotel berbintang empat yang menjadi ajang apresiasi musik indie adalah Garden Palace Hotel (GPH). Setiap Selasa dan hampir dua tahun, hotel di pusat kota ini selalu menggelar musik indie dengan titel Club Tuesday. Awalnya acara digelar pihak hotel dan sebuah radio namun perkembangannya juga melibatkan sponsor. Kelompok yang tampil, ternyata tidak hanya dari Surabaya atau Jawa Timur umumnya tapi juga sering kedatangan grup indie dari luar kota. Ada yang dari Jogjakarta, Bandung bahkan dari Bali juga sempat hadir. Kehadiran mereka ini bukan sebagai bintang tamu atau undangan tapi keiinginan sendiri, sekaligus membentuk jaringan.

Geliat band indie sepertinya terus maju dan mengikuti jenis musik lainnya. Ajang musik indie yang tergolong besar LA Light Indiefest 2006 dan digelar di Surabaya, Jogjakarta, Jakarta dan Bandung jumlahnya pesertanya mencapai 1.450 band. Tema yang diangkat cukup menarik dan gaul, Biar Musik Lu Didenger…! Dari ribuan peserta itu diseleksi dan sepuluh band terbaik berkesempatan rekaman kompilasi. Albumnya diedarkan melalui perusahaan rekaman Fast Forward Records (FFR) dan didistribusikan ke 22 negara melalui iTunes, sejenis perangkat lunak musik yang berfungsi sebagai MP3 Player.

Festival secara besar dan ditempat yang strategis ini, tujuannya untuk mengangkat band indie dan namanya bisa terkenal, seperti band pop atau rock, kata Head of Communication Dept. Independent Network Indonesia, Rella Putra Ir, saat itu di Surabaya. Sebagai penambah wawasan band indie baru, dihadirkan juga bintang tamu, band indie Indonesia yang sudah terkenal namanya, seperti The SIGIT, Goodnight Electric dan band indie dunia Edison dari Swedia. Ada juga Ballads of The Cliche, band Tanah Air yang penggemarnya hingga manca negara. Di antaranya Malaysia, Jepang, Thailand Singapura dan lainnya. Pada Februari 2007, grup ini sempat dua kali konser di Esplanade Outdoor Theatre, Singapura. Februari 2008 ini kabarnya Fox dari Surabaya juga konser di Singapura.

Melanjutkan Indiefest, tahun berikutnya digelar festival dengan tema Urbanfest 2007. Dilaksanakan di Surabaya, Jogjakarta, Jakarta, dan Bandung pada Agustus-September. Pesertanya juga meningkat, menjadi 1.870 band yang berarti atau bisa dikatakan bahwa band indie makin menunjukkan eksistensinya. Jika dibandingkan dengan ajang musik lainnya, sepertinya misalnya A Mild Live (AML) Wanted 2007, tidak jauh berbeda. Saat itu pesertanya 2.300 band. Apalagi dibandingkan dengan ajang musik jazz yang pesertanya minim. Pada 2007, saat salah satu rumah musik mengadakan festival, pesertanya hanya 10 band.

Melihat kondisi ini, band indie sepertinya layak jual dan dilirik pasar musik Indonesia. Tinggal produser yang bisa mengolahnya dan membinanya. Apalagi sebagian band indie juga mulai terbuka pada label mayor. Terbukti, beberapa band indie masuk 12 besar AML Regional Jatim 2008 yang juga didukung dua perusahaan label mayor. Juara I dari ajang tersebut, Blast Band pernah juara III Indie Party 2006. Namun ada sebagian band indie tidak rela karyanya dibuat mayor. Pada ajang musik indie, kriteria penilaiannya untuk lolos ke babak selanjutnya adalah kualitas lagu, orisinalitas lagu, kemampuan personel band dalam bermain musik dan menyanyikan lagu secara langsung (live), gaya penampilan, dan prospek atau potensi band di masa depan.

Dari sekian banyak konser atau festival yang dilakukan, band indie di Indonesia ternyata amat beragam dan corak musiknya sangat variatif. Ini menunjukkan bahwa mereka bebas berekspresi sekaligus dampak dari globalisasi yang amat deras serta didukung teknologi canggih. Band indie, dalam bermusik, sepertinya tanpa hambatan atau tekanan. Apalagi sampai pusing memikirkan supaya kaset atau CD-nya laku di pasaran. Karena mempunyai jaringan tersendiri. Bagi mereka, sepertinya ada ungkapan bahwa musik adalah jiwa bukan untuk dijual.

Sumber; Simphonymusic.com


Digg!

One thought on “Indie Musik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s