Koil; Retorika Band Rock

Koil adalah paradoks di dalam dunia musik Indonesia. Muncul sejak pertengahan 90-an, melempar sedikit album dan single, serta melakukan sedikit sekali pertunjukan. Namun secara pelan dan pasti, mereka telah menempatkan diri dalam posisi yang terhormat di antara band-band lain di tanah air.

Sempat terabaikan di awal karirnya, Koil membuat publik terperangah saat meluncurkan Megaloblast di tahun 2001. Itu adalah album yang didominasi tema gelap dengan lagu-lagu bercita rasa industrial-rock yang memikat. Sebuah karya yang nyaris tanpa cela di jamannya. Lalu rentang waktu tahunan sesudah Megaloblast adalah masa-masa penuh ketidakpastian, setidaknya bagi penggemar mereka. Berita-berita pembuatan album baru Koil tersebar simpang siur di milis dan media. Gosip-gosip yang bergulir dari mulut ke mulut tak pernah jelas benar mana yang nyata dan mana yang hampa. Otong, sang juru suara, satu-satunya personel yang daripadanya orang bisa berharap mendapatkan sedikit berita, malah memperburuk keadaan dengan kegemarannya melontarkan pernyataan yang terkesan main-main dan kontroversial. Diam-diam dan tanpa disangka, Koil tengah menyiapkan semacam ‘pemberontakan norma’. Baru-baru ini mereka secara resmi meluncurkan album baru bertajuk Blacklight Shines On. Jangan bandingkan Blacklight dengan Megaloblast. Itu hal yang sia-sia. Koil telah sangat berubah. Dan proses, saudara-saudara, yang saya duga telah membuat Koil berkembang dari band biasa menjadi band ‘anarkis’. Kalo anda mengidentikkan kata ini dengan tindak kekerasan, saya maklum. Tapi mari kita belajar bahwa anarkisme juga berarti ketidakpercayaan bahwa institusi besar apapun bentuknya dapat mengurus apalagi mensejahterakan orang per orang. Anarkisme menentang segala bentuk hirarki dalam perkara ekonomi, sosial, juga politik. Juga percaya bahwa….

kehidupan yang lebih baik dapat diupayakan apabila kita mau mengorganisir diri dan bekerja sama. Anarkisme yang pertama, Koil tidak sudi menyerahkan Blacklight kepada label rekaman manapun! Mereka seperti menolak tunduk terhadap kelaziman industri musik Indonesia. Di kala band lain mati-matian berjuang menembus label rekaman untuk dipasarkan, Koil justru memilih menyenangkan banyak orang dengan membagikan lagu-lagu baru mereka secara gratis melalui internet. Hingga kemudian versi utuh rekaman Blacklight menjadi bonus majalah Rolling Stone edisi November. Bagi kita yang mengaku diri normal ini, langkah mereka agak di luar akal sehat. Proses rekaman dan sebagainya kita tahu membutuhkan biaya yang tak sedikit. Apakah mereka sudah kaya dan tidak membutuhkan uang lagi?! Saya kira bukan ‘uang’ kata kuncinya, melainkan proses ‘bersenang-senang’.

Koil mungkin paham bahwa kesenangan atau kepuasan tak selalu dapat diukur dengan uang. Anarkisme selanjutnya terbaca jelas di setiap lirik lagu mereka. Dalam track pembuka, Kenyataan Dalam Dunia Fantasi, Otong dengan lantang berkata “Aku bukan bagian dari kebanggaan yang membuat kita tak berpenghasilan.” Sebuah statement politis yang menyindir institusi negara yang gemar mendoktrinkan kecintaan kepada tanah air namun mereka sendiri selalu abai terhadap rakyatnya. Negara telah membiarkan rakyat miskin dan susah mendapatkan uang. Di bait terakhir lagu ini, Otong menggempur total mitos sakral yang bernama nasionalisme. Ia mencerca, “Nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran.” Sebuah pernyataan sikap yang lugas tak kenal takut. Entah setan mana yang berhasil menyabetnya hingga menjadi sedemikian inspiratif dan berani. Tema anarkisme kembali muncul dalam track Nyanyikan Lagu Perang. Di lagu yang potensial menjadi anthem itu, Otong menertawakan orang-orang malas, yang terus ‘menunggu, sampai beruban sembari menyanyikan keluhan’. Baginya, sebagai rakyat jelata dan bukan penguasa, kita itu sebenarnya ‘pintar, dengan otak bersinar’ dan ‘hanya perlu semangat untuk hidupi rakyat’. Sungguh, lagu ini adalah soundtrack penyemangat bagi hari-hari yang sering membosankan. Saya tak pernah menemui lirik seoptimis ini dari band Indonesia lain manapun. Semoga Kau Sembuh part.2 adalah nomor paling kuat dan paling indah. Tekstur lagunya sederhana, up-beat, dan cukup enak untuk bergoyang. Seperti Interstate Love Song-nya Collective Soul dengan tempo yang lebih cepat dan bertenaga – namun dibalut nuansa sedih dan haru. Vokal Otong terdengar seperti orang yang sedang berdoa dengan tulus. Koil membuktikan bahwa lagu yang menyentuh dan indah tidaklah harus mendayu-dayu dan cengeng. Ini akan jadi salah satu lagu lokal dengan durasi di atas tujuh menit yang paling adiktif yang pernah anda dengar. Aku Lupa Aku Luka adalah lagu paling keras dalam album Blacklight – bahkan mungkin dalam sejarah musik Koil. Sebuah anthem yang akan menjadi katarsis pelepas duka dan amarah. Satu lagu yang juga cukup istimewa adalah ‘hidden track’ di penghujung album. Nomor berbahasa Inggris dengan tempo pelan yang membawa nuansa murung nan menghantui. Di tengah denting organ dan bunyi lonceng gereja, Otong bernyanyi seperti meratap. Sebuah bonus tambahan yang cukup membius. Dari segi musikal, Blacklight adalah album yang solid. Lagu demi lagu seperti memiliki perekat yang menyatukan, hingga total sembilan nomor plus satu hidden track itu tampak padu dan saling menguatkan. Agak susah bagi saya untuk menyebutkan lagu terbaik karena hampir semuanya memiliki keistimewaan tersendiri. Namun kalau dipaksa memilih nomor favorit, saya tak ragu untuk menyebutkan tiga lagu; Nyanyikan Lagu Perang, Semoga Kau Sembuh part.2, dan Aku Lupa Aku Luka. Secara keseluruhan, Blacklight adalah karya terbaik Koil hingga saat ini. Jauh melampaui Megaloblast yang cukup terkenal itu.

Ya, Koil telah kembali dengan album yang melebihi ekspektasi siapapun. Otong, sang pencemooh, harus diakui adalah penulis lirik yang bagus, dan Donny [gitaris] juga seorang penulis lagu yang hebat. Kredit yang luar biasa juga musti disematkan pada Imo, Leon, dan Adam yang ikut bekerja keras melahirkan karya yang tampaknya bakal bersinar lama ini. Album ini bisa melepaskan cap industrial yang sekian lama terlanjur melekat dalam band ini. Karena sesungguhnya Koil adalah band rock. Tepatnya, sebuah band rock yang memikat. Bukan karena kesempurnaan mereka – melainkan karena bersama Koil kita tak malu berlaku sebagai rakyat biasa yang terus bekerja, mencari uang, dan sedikit bersenang-senang… [Ibnu]

Sumber; www.apokalip.com


7 thoughts on “Koil; Retorika Band Rock

  1. BIMZ

    Koil..! MEGALOBLAST tetap yg paling meledak di awal 2000an. hingga hari ini aku tk pernah bosan dgn spirit lagu dan liriknya. MARYLIN MANSON nya indonesia mngkin, bhkn bsa lebih..dari komposisi musik, sound FX, lirik, vocal growl dan ide-ide di setiap lagu di album megaloblast jelas arah nya..BLACKLIGHT kurang jelas dan mngkn agak kacau..

  2. Koil… Yah ..Oke., kren tuh, menurut gue, mo album yg dulu to yg bru, ‘edan euy’ suara kang otong yg khas fantastik bwat d dngar, mngkin klo album blacklight agak brantakan, tp tidak untuk lagu aku lupa aku luka, kenyataan dlam dunia fantasi, lg perang , and smoga kau cpat smbuh, 4 lgu ini yg kren abis, pa lg aksi panggung kang otong yg menbanting gitar, wah wah wah… Edan lah..

  3. beli di distro2 aja… pasti ada. kalo nggak, di bandung banyak yang jualan kaset pinggir jalan. tapi always original meskipun second…:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s