Pembatasan Musik Indonesia di Malaysia

Lagi-lagi, Indonesia terlibat kontroversi dengan Negara jiran Malaysia. kali ini tentang adanya isu pelarangan/pembatasan peredaran musik-musik indonesia oleh (di) malaysia.

Kalaupun memang ini yang terjadi, semakin jelas bahwa negara tersebut seolah ingin memutuskan tali persahabatan dengan negara Indonesia. sebenarnya bukan saja indonesia yang dirugikan oleh adanya isu larangan tersebut, seperti penjualan album lagu-lagu dari band/oenyanyi indonesia, manggung, dan kerugian non materi lainnya, malaysia juga pastinya akan dirugikan, dan dampaknya adalah rakyat malaysia itu sendiri yang memang harus diakui lebih menyukai lagu-lagu indonesia dibanding lagu-lagu dari band/penyanyi lokal malaysia. tak perlu dijelaskan tentang detil fakta-fakta tersebut. karena, berapa banyak band/penyanyi indonesia yang dipuja setinggi langit disana. Peterpan, Nidji, Ungu, mungkin band indonesia yang sangat sukses dalam penjualan album di malaysia.

Bila mereka ingin sportif, rasanya malaysia harus mengakui bahwa musik indoneia “relatif lebih baik” dari musik malaysia. musik indonesia yang begitu berwarna dan berkualitas, dibanding dengan musik-musik malaysia yang cenderung menoton dan sedikit membosankan.

Tapi, meskipun demikian, harus diakui pula bahwa banyak musisi-musisi malaysia yang sukses dan menjadi panutan di indonesia. Siti Nurhaliza, Amy Search, Iklim, dll.

Bukan ingin memperkeruh suasana, tapi inilah faktanya. malaysia mestnya tak harus memilah dan memilih mana musik indonesia, mana musik malaysia. karen selera orang masing-masing berbeda. biarkan musik menjadi sebuah dunia tersendiri yang bisa mempersatukan antar bangsa, budaya, dan bahasa.

7 thoughts on “Pembatasan Musik Indonesia di Malaysia

  1. coco

    Ini aku ambik tulisan dari blog seorg Indonesia yang tinggal di Malaysia untuk dikongsi disini. Rasanya dia lebih memahami situasi mengenai muzik Indonesia di Malaysia sekarang ini.
    Bacalah memang menarik.

    TENTANG “MUZIK”;

    MASIH GE’ER SOAL MUSIK INDON? DI SINI SUDAH BERUBAH

    Rum Muhammad*

    Kandidat International Master in ASEAN Studies, Asia-Europe Institute, KL

    Peminat musik Asia Tenggara

    Recovery industri musik di Malaysia boleh dikatakan luar biasa. Setelah beberapa tahun terakhir di landa demam musik seberang, mereka (sedikit demi sedikit) bisa bangkit. Sebetulnya, pemerintah Malaysia pun sudah ambil perhatian khusus dengan membatasi pemutaran musik Indon di radio mulai akhir Agustus lalu. Guna mempercepat proses kreatif musisi-musisi baru. Dan pada dua bulan terakhir ini, para penikmat musik (termasuk kawan-kawan saya di 12th College) tersadar bahwa mencintai musik dalam negeri adalah suatu kebutuhan. Seburuk apa pun, ya harus diapresiasi. Tentu saja kini di kantin saya, tidak lagi sering diputar musik Indonesia. Misal saja krisis seperti ini terjadi di Indonesia, saya yakin rakyat kita tidak bisa keluar dari permasalahan serupa dengan cepat, seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang melayu. Hanya dengan satu – dua bulan saja, kemajuan usaha mereka bisa dirasakan.

    Ya mungkin kita yang akan berseloroh; yang bisa dinikmati dari musik Malaysia itu apanya? Karena biasanya mereka cuma punya slow rock gaya jadul. Saya katakan anggapan itu salah.

    Sebab yang kita ketahui dari Indonesia hanyalah perkembangan musik melayu Malaysia. Itu tidak bisa dijadikan representasi Malaysia seutuhnya. Karena di sini ada juga etnis lain. Semisal Chinese di sini, mereka mengembangkan musik tersendiri dengan preferensi tersendiri. Komunitas mereka, termasuk di Selangor dan kuala Lumpur, adalah sangat besar. Kalau kita ingat kejadian pada 1969 (menjelang kerusuhan rasial), mereka pernah show force dengan ramai-ramai long march membawa sapu memasuki Kuala Lumpur (sapu sebagai simbol mengenyahkan orang melayu untuk pergi). Tapi sekarang orang-orang dari berbagai ras sudah jauh lebih bisa memahami satu sama lain. Chinese tidak hanya menggunakan bahasa Inggris untuk perbincangan antar ras, tetapi mereka juga boleh menggunakan bahasa melayu.. namun tetap dari segi musik pun kini untuk komunitas mereka sendiri, dengan bahasa mandarin. kata “komunitas” itu tidak seperti yang kita maknai di Indonesia, di Malaysia jauh lebih terasa. Dan “komunitas” itu tidak mesti bermakna minoritas/sebagian. Di tempat-tempat ramai di KL, kita bisa melihat komunitas itu sebagai mayoritas. Misal; lebih mudah saya berjumpa dengan chinese ketimbang dengan malay di Midvalley atau Low Yat. Kalau mendengarkan musik, ya mereka pilih lagu-lagu dari China, Taiwan, dan Singapura.. Karena capital dan penguasaan industri, dari segi musikalitas dan proses produksi, mereka jauh lebih bagus dari yang kita punya di Indonesia. kini yang sedang diigandrungi oleh banyak orang ya semacam Claire Kwok, Hsiao Hung Jen dan Vaness Wu yang juga kita kenal baik lewat kelompok F4. Dan mereka semua sangat popular. Daniel Lee yang malaysian pun tidak kalah punya banyak fans.

    Yang sangat popular di Thailand juga akan menjadi idola di Malaysia. misalnya saja Ruangsak Loychusak – kalau di sini biasa dipanggil James saja – bahkan beberapa lagu dari artis-artis Thailand lainnya (yang saya punya kesulitan mengeja namanya; susah diingat) bisa dipakai sebagai nada sambung kalau kita menggunakan layanan telepon seluler Maxis. kalau video klip musik-musik Thailand, menurut saya, tidak bisa diragukan lagi. sedikit labih bagus dari Indonesia. di Megamall KL, saya lihat banyak juga orang yang membeli VCD musik Thai. suatu hari ada promosi kompilasi musik Thailand dan dalam masa yang singkat, saya haya melihat dua keping sisa di rak. Musik Thailand sebetulnya terlebih populer di Laos dan Cambodia meskipun sekarang jumlah peminat di Cambodia juga terpengaruh dengan ketegangan politik menyangkut sengketa Angkor Wat dan kuil suci Prai Whier belakangan ini). Sedangkan untuk Vietnamese, yang ada di pasaran Malaysia itu seperti Thu Thuy dan Ung Huang (semestinya negara yang mendapatkan paling banyak pengaruh Vietnam adalah Cambodia -apabia dilihat dari sejarah pembebasan dari Pol Poy oleh sukarelawan Vietnam. Tetapi Banyak orang Cambodia jengah dengan bisnis orang-orang Vietnam di negara mereka).

    Jangan ditanya soal pengaruh India. di sini, musik Tamil dan Bollywood -utamanya- banyak dan mudah dijumpai. hanya saja karena saya kurang interes jadi ya tidak ikut-ikutan mendengarkan musik India. soal Korea dan Jepang; nggak ada komentar deh. tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia; banyak penggemar. Lebih banyak kalangan muda yang mengenal L’Arc en Ciel dan Ayumi Hamasaki. bahkan di sini ada pandangan bahwa Jepang itu sama dengan “kecantikan”; japan is beauty. Semoga bukan karena pornografinya.

    Jadi ya jangan cepat-cepat ge’er soal musik Indonesia (Ke-ge’er-an serupa kan terjadi juga saat orang Indonesia mengungkit-ungkit bahwa dahulu Malaysia belajar dari Indonesia. Memang benar, dulu ada sebagian masyarakat malaysia belajar ke negeri kita, tapi itu hanya sedikit saja presentasinya. karena pemerintah Malaysia lebih memprioritaskan pelajarnya untuk menuntut ilmu di UK, Amerika dan Eropa). kita hanya sebagian saja dari apa yang beredar di malaysia. toh tetangga saya, si Mok Chuang Chin yang asal Penang, juga tidak tahu menahu soal lagu-lagu atau sinetron atau film Indon. karena di sini, adalah masyarakat yang majemuk. mungkin hal-hal semacam ini yang membuat pemerintah malaysia pede memasang slogan; Malaysia, Truly Asia.

    Cuma permasalahannya, orang melayu yang memilih untuk mendengarkan musik melayu, sebagai musik “komunitas”. Itu sebab mereka dengar musik Indon. Karena kita satu komunitas saja dengan mereka. (sebetulnya permasalahan klasik juga; federasi Malaysia membutuhkan Sabah dan Sarawak untuk menambah jumlah bumiputera guna mempertahankan mayoritas atas Chinese dan India. Kini dengan ada banyak Indon, artinya juga banyak bumiputera bermukim di semenanjung). Mereka butuh pula hiburan yang variatif.

    Awalnya si bagus sebagai titian muhibah bangsa-bangsa di nusantara, tapi lama kelamaan musik indon dirasa semakin menggusur musisi lokal juga. Jadi yang awalnya diundang sebagai kawan sedarah – mengutip satu tajuk tulisan “one root two countries” (untuk menemani sebagaian hati mereka dalam kehidupan sehari-hari), berubah menjadi dominator. Sebab terlalu gencar –saya pikir– major label dan distributor seperi Warner Music atau Sony memasukkan lagu-lagu Indon ke Malaysia. boleh dikata ; tidak peka politik Semestinya sedari awal mereka mempertimbangkan dampak sosialnya. Pertama, musik Indon masuk itu bagus untuk orang melayu karena untuk turut menjaga “Bahasa” tetap dituturkan di Malaysia dan juga untuk “menemani” masyarakat melayu (sebagia besar keluarga melayu kini menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa ibu bagi anak-anak mereka). Tetapi jika terlampau dominan, tanpa ada usaha untuk apresiasi terhadap musisi lokal, tentu akan berimbas buruk bagi relasi antar dua bangsa serumpun ini. Semestinya semua diletakkan pada proporsi yang mengerti adat. Bukan pada alasan-alasan komersial, mencari keuntungan.

    Saat ini, komunitas musik malay sedang memulai apa yang mereka sebut sebagai Gelombang Indie #1. dalam rangka memajukan kretaifitas musik melayu. jika arus mainstream sulit bersaing, maka anak-anak ini mulai mendobrak. Gelombang Indie #1 berarti pula proses akselerasi musisi-musisi muda, dengan gaya bermusik yang bebas dan kaya akan referensi musik. Beberapa band baru bermunculan dan sedang menjadi sorotan media. Dan boleh kita katakan punya kreatifitas yang tidak kalah dengan band-band Indon. Tengok saja band Estrangled, Meet Uncle Hussain, dan Hujan, juga Sofaz yang membanggakan karena berhasil masuk pasaran Indonesia. boleh lah tahun lalu Gigi bisa memperoleh banyak gelar di Anugerah Planet Muzik (APM – dipersembahkan untuk lagu-lagu serumpun dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei), tahun depan saya bertaruh persaingannya sedikit bergeser.

    Salah satu personel Hujan, Mohd. Noh, berpendapat bahwa Gelombang Indie #1 muncul juga akibat keprihatinan mereka atas terlalu banyaknya band Indon yang masuk. Sehingga bijak kiranya untuk anak-anak melayu mulai memperbanyak referensi musik dan mulai berjuang melalui indie sedari nol. Hal ini penting dirasakan untuk membentuk karakter musisi muda. Dan kalau pun gelombang ini menyapu musisi-musisi lama yang turun produktifitasnya, musik Malaysia boleh kembali berjaya. Hujan lebih dekat kiranya dengan selera kita di Indonesia; alternative garage. Pada awalnya pun Hujan juga digawangi oleh seorang musisi Indonesia, Dimas, sebagai bassist (karena Dimas harus pulang ke Indonesia, kini posisinya digantikan oleh Mohd Hezry Bin Mohd Hafidz). Meet uncle Hussain juga dibanggakan oleh kalangan muda di sini, karena keyakinan pada kepiawaian mereka mengaransemen lagu. Beberapa percaya bahwa sampai saat ini tidak ada band indon yang bersaing dengan Meet Uncle Hussain di genrenya. Juga untuk Esrangled yang sudah lebih berpengalaman, mereka diyakini tetap eksis beberapa tahun ke depan karena pasaran yang spesifik. Andy, salah satu personelnya berpendapat bahwa tempo yang lalu orang melayu kurang memberi sambuan kepada band-band dalam negeri, namun kini boleh dikata bahwa mereka bisa berharap lebih. Dikatakannya; “to be honest, kita bukannya ingin bersaing dengan composer-composer lain, kami hanya ingin muzik kita tersebar ke seluruh Negara.”

    Saya peribadi berharap distributor musik lebih peka lagi terhadap permasalahan yang berhubungan dengan sentimen. semoga sukses untu musik Indon di Indonesia sendiri, dan sukses untuk maay di malasysia sendiri. kalau pun mau bertukar, pertukaran yang proporsional itu jauh lebih menghormati satu sama lain. sehingga yang dimulakan dengan tujuan baik, tidak justru memperburuk keadaan di akhirnya. Sekian laporan dari KL, mungkin ada baiknya diakhiri dengan beberapa bait lirik lagu Bila Aku Sudah Tiada dari Hujan, untuk mengiringi berakhirnya era musik Indon untuk digantikan Gelombang baru di Malaysia;

    Bila Aku Sudah Tiada/ Simpan semua laguku/ Jangan ditangis selalu/ Mungkin, itu sementara/ Bila jumpa penggantiku/ Jangan dilupakan/ aku…/

    Catatan akhir, entah ini keuntungan atau kerugian kita? tapi bagimana pun, terimakasih untuk proses nation building yang “diinternalisasikan” oleh Bapak Pembangunan kita Suharto, kini kita tidak harus mengalami kehidupan ber”komunitas” seperti di Malaysia. Karena di tempat kita, semuanya menjadi satu. Terimakasih juga untuk bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, sangat membantu proses integrasi masyarakat. []

  2. komennya bagus..tapi saya kurang setuju dengan pendapat anda yang mengatakan kualitas video musik indonesia dibawah thailand.saya lumayan banyak mengenal penyanyi dari thailand,dan beberapa video musik mereka saya juga punya,macam Bie,Faye Fong Kaew,acapella 7,dll.kualitasnya menurut gue sama aja tuh dengan yang di indonesia.mungkin kamera yang mereka gunakan dalam membuat klip video lebih asia.maksudnya terlihat mirip dengan video2 musik penyanyi dari korea,china,taiwan,dan hongkong.jadinya terlihat kayak lebih bagusan video musik mereka daripada video musik kita.

  3. alfa gibran

    amatir Spoken….berbicara tentang musik semestinya para pelaku musik dan penikmat musik g usah mengelompokkan atau membatasi sebuah karya untuk dinikmati….. musik menurut saya bahasa global yang sifatnya universe jadi nikmati saja….. Musik Untuk Hidup dan kedamaian….

  4. riyan

    yang akan menentukan itu semua adalah para penikmat lagu yakni costemer itu sendiri, sulit rasanya jika pemerintah sekali pun melarang maupun membatasi itu semua kembali ke musik itu sendiri ” kalau enak yang di denger ya di denger, kalu tak enak buat apa ya kann ……

  5. Saya kira biarlah musik mganlir dengan sendirinya tidak mesti dibatasi, bila musik indonesia menguasai pasar di malaysia itu karena mengalir memang sudah keburtuhan masyarakat pendengar musik di malaysia, tidak perlu ada proporsional karena musik universal , waktu akan berbicara kemana musik itu akan mengalir ketelinga pendengarnya melewati batas bastas negara , saya kira itu lebih bijak tks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s