Kompromi Demi Nasi

“Album kami yang berikutnya, bakal kayak Ungu, Leh,” katanya pelan.

Yang mengeluarkan kalimat tadi, salah seorang personel dari kelompok musik. Majalah Trax sempat menulis beberapa kali soal mereka. Arian, yang merasa musik mereka bagus, seperti juga saya, waktu itu memberi porsi yang cukup banyak buat mereka. Kami ingin mendukung mereka. Yah, minimal membantu mempromosikan album mereka.

Saya tak akan menyebut nama mereka. Sebenarnya, mengutip perkataannya tanpa ijin sudah tidak etis. Makanya, saya samarkan, biar sedikit mengurangi rasa bersalah. Tak akan pula menyebut genre musiknya. Karena sudah jarang kelompok musik yang memainkan musik seperti mereka, sekarang. Yang jelas, mereka bagus. Memang, komposisi musiknya, bukan tipikal yang bakal langsung hinggap di telinga. Butuh waktu. Dan memang, cenderung terlalu rumit, berat, serius. In a good way, sebenarnya.

Lirik mereka penuh perenungan. Kontemplatif. Si penulis lirik bercerita pada saya, kalau mereka tidak ingin lirik mereka tidak bermakna. Si penulis lirik mengagumi lirik-lirik Arian. Dia bilang, Arian bisa membuat lirik berbahasa Indonesia, dengan bagus. Saya juga melihat dia punya potensi menawarkan tema lagu yang berbeda untuk industri musik Indonesia.

Walaupun, agak terlalu berat sebenarnya. Biasanya, kelompok musik yang sudah mengeluarkan beberapa album, mengeluarkan lirik-lirik kontemplatif seperti itu. Dengan kata lain, seiring bertambahnya usia si penulis lirik. Tapi, mereka sudah melakukannya di album pertama.

Saya waktu itu, agak terkejut juga, ketika si label mau merilis album perdana mereka. Dan bersyukur, setidaknya, mereka dari label besar masih mau percaya pada kelompok musik seperti mereka. Yang tidak bernyanyi soal cinta-cintaan antara laki-laki dan perempuan. Yang tidak mendayu-dayu, khas Melayu. Yang saya tangkap, mereka tak ingin seperti banyak kelompok musik lain di Indonesia.

Setidaknya, sampai saya bertemu lagi dengan salah seorang dari mereka, kemarin.

Memang, sebelumnya, saya pernah dengar dari si penulis lirik, kalau si bos label ingin agar si penulis lirik menulis lirik cinta-cintaan. Jangan terlalu serius. Waktu itu, si penulis lirik hanya cengengesan ketika bercerita soal itu. Saya menangkap kesan, kalau dia masih tak setuju dengan ide itu. Atau, setidaknya, masih berpikir dua kali untuk melakukan itu.

“Anak-anak kan sekarang udah ada yang berkeluarga juga Leh. Yah, minimal, kami melakukan ini buat memertahankan band supaya jangan bubar aja,” kata si personel yang bertemu dengan saya kemarin.

Perasaan saya, campur aduk. Ada sedikit rasa iba. Ada juga perasaan, yah wajar lah namanya juga industri. Selama mereka senang, kenapa tidak? Tapi, ketika si personel itu mengeluarkan kata-kata itu, sambil tersenyum miris, saya menangkap kesan, kalau mereka sebenarnya agak terpaksa juga mengambil langkah itu.

“Sekarang, liriknya yah aku padamu aku padamu. Si penulis lirik juga banyak baca chicklit sekarang. Dan nada vokalnya sekarang melengking melulu,” laki-laki itu tertawa.

Saya tak tau, dia tertawa karena menganggap hal itu benar-benar bodoh. Atau karena tertawa dalam kesedihan. [Haha. Saya seperti yang berlebihan ya. Maafkan].

Mungkin ini tak akan terjadi kalau si label tidak menaruh beban yang begitu besar pada mereka. Mungkin ini tak akan terjadi kalau si label masih mau memercayakan mereka untuk membuat musik yang mereka keluarkan dari hati. Bukan musik yang dibuat karena terpaksa. Ke mana rasa percaya itu?

Atau, mungkin setelah mereka merilis album dengan “musik seperti Ungu” dan meledak, punya banyak uang, mereka tak jadi bubar, lantas menikmati membuat musik begitu, yah saya tak bisa berkata apa-apa lagi selain ikut berbahagia buat mereka.

Tapi, kalau saja, ternyata “musik seperti Ungu” yang mereka buat tak lebih baik dari musik di album terdahulu mereka, juga tak lebih baik dari musik Ungu, akibatnya tak laku dijual, hingga membuat mereka benar-benar bubar, wah disayangkan sekali ya.

Ini membuat saya bertanya-tanya. Berapa banyak kelompok musik yang dalam karirnya mengambil langkah seperti mereka? Saya sering dengar memang soal ini. Tapi, terus terang, ini kali pertama, seorang musisi berkata jujur soal itu kepada saya. Dan mendengar langsung, terasa lebih sedih dan terenyuh.

Kalau memang dari awal mereka ingin membuat musik yang seperti itu, cinta-cintaan dan laku dijual, saya mungkin tak akan sedih mendengar keputusan mereka untuk “membuat musik seperti Ungu.” Tapi ini, ya itu tadi. Saya masih ingat waktu pertama kali mewawancarai mereka. Penuh semangat. Sangat yakin pada musik yang mereka buat. Ingin menawarkan pilihan lain. Ingin jadi pusaka di industri musik Indonesia.

Ah, sialan. Saya lagi-lagi berlebihan. Apapun yang terjadi, saya doakan mereka mendapatkan yang mereka cari.

sumber; solehsolihun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s